
Bahder Djohan merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah pendidikan Indonesia yang perannya sering terlupakan di tengah besarnya nama-nama lain dalam sejarah nasional. Padahal, sebagai Menteri Pengajaran, Pendidikan, dan Kebudayaan pada awal masa kemerdekaan, ia memiliki kontribusi besar dalam membentuk arah pendidikan Indonesia yang berlandaskan kebangsaan, kemanusiaan, dan kebudayaan nasional. Di tengah situasi negara yang masih rapuh setelah kemerdekaan, Bahder Djohan hadir dengan gagasan bahwa pendidikan bukan sekadar alat mencetak pegawai atau tenaga administratif, melainkan sarana membangun manusia Indonesia yang merdeka lahir dan batin.
Lahir di Padang pada 30 Juli 1902, Bahder Djohan tumbuh dalam lingkungan Minangkabau yang dikenal memiliki tradisi intelektual kuat. Budaya merantau, semangat belajar, dan tradisi diskusi yang hidup dalam masyarakat Minang membentuk karakter berpikirnya sejak muda. Pendidikan modern yang ia tempuh di STOVIA, sekolah kedokteran bergengsi pada masa Hindia Belanda, mempertemukannya dengan banyak tokoh pergerakan nasional. Dari sana, ia mulai aktif dalam organisasi pemuda seperti Jong Sumatranen Bond dan terlibat dalam arus besar kebangkitan nasional Indonesia.
Sebagai seorang dokter, Bahder Djohan melihat secara langsung kondisi rakyat yang hidup dalam kemiskinan dan keterbelakangan akibat penjajahan. Pengalaman itu membentuk keyakinannya bahwa pendidikan merupakan jalan utama untuk mengangkat martabat masyarakat. Baginya, bangsa yang merdeka tidak mungkin berdiri kokoh tanpa rakyat yang terdidik. Pemikiran ini kemudian menjadi dasar dari seluruh kebijakan dan pandangannya ketika dipercaya memimpin kementerian pendidikan pada awal 1950-an.
Bahder Djohan menjabat Menteri Pengajaran, Pendidikan, dan Kebudayaan dalam Kabinet Natsir sejak September 1950, lalu kembali menjabat pada masa Kabinet Wilopo. Masa itu merupakan periode yang sangat berat bagi Indonesia. Infrastruktur pendidikan masih terbatas, jumlah sekolah sangat sedikit, tenaga guru kurang, dan angka buta huruf masih tinggi. Sistem pendidikan yang diwariskan Belanda pun belum sepenuhnya berubah dari pola kolonial yang diskriminatif. Pendidikan pada masa penjajahan lebih banyak ditujukan untuk kepentingan administrasi pemerintah kolonial dan hanya dapat diakses kelompok tertentu.
Dalam situasi tersebut, Bahder Djohan berusaha mengubah orientasi pendidikan nasional. Ia memandang bahwa pendidikan harus menjadi hak seluruh rakyat, bukan hak kalangan elite saja. Karena itu, salah satu perhatian utamanya adalah memperluas akses pendidikan dasar hingga ke daerah-daerah yang selama masa kolonial terabaikan. Ia mendorong pembangunan sekolah rakyat dan memperjuangkan penambahan tenaga pengajar agar masyarakat di desa-desa juga memperoleh kesempatan belajar yang sama dengan masyarakat kota.
Namun, yang paling menonjol dari pemikiran Bahder Djohan bukan sekadar soal pemerataan pendidikan, melainkan visi humanis yang ia bawa. Ia percaya bahwa tujuan pendidikan adalah membentuk manusia Indonesia yang memiliki karakter, tanggung jawab sosial, dan kesadaran kebangsaan. Menurutnya, pendidikan tidak boleh hanya menghasilkan orang pandai secara akademis, tetapi juga manusia yang memiliki moral dan rasa kemanusiaan.
Pandangan itu muncul sebagai kritik terhadap sistem pendidikan kolonial yang dianggap terlalu menekankan kepatuhan administratif dan mengabaikan pembentukan kepribadian bangsa. Bahder Djohan ingin pendidikan Indonesia memiliki jiwa sendiri yang berakar pada kebudayaan nasional. Ia menolak gagasan bahwa kemajuan hanya dapat dicapai dengan meniru Barat sepenuhnya. Menurutnya, pendidikan modern harus tetap berpijak pada identitas Indonesia, pada nilai sosial masyarakat, bahasa nasional, dan kebudayaan daerah yang menjadi kekayaan bangsa.
Karena itu, pada masa kepemimpinannya, pengajaran sejarah nasional, bahasa Indonesia, dan kebudayaan mulai memperoleh perhatian lebih besar. Ia memahami bahwa bangsa yang baru merdeka membutuhkan identitas bersama agar tidak tercerai-berai oleh perbedaan suku dan daerah. Pendidikan dipandangnya sebagai alat pemersatu bangsa sekaligus sarana menanamkan semangat nasionalisme.
Bahder Djohan juga dikenal memiliki pandangan progresif terhadap perempuan. Jauh sebelum menjadi menteri, ia sudah menyuarakan pentingnya pendidikan perempuan dalam pidatonya yang terkenal berjudul “Di Tangan Wanita.” Dalam pidato itu, ia menegaskan bahwa kemajuan bangsa sangat bergantung pada kualitas perempuan sebagai pendidik pertama dalam keluarga. Pada masa kolonial, pandangan semacam itu tergolong maju karena pendidikan perempuan masih sangat terbatas. Sikapnya menunjukkan bahwa ia melihat pendidikan sebagai hak universal tanpa membedakan jenis kelamin.
Setelah tidak lagi menjabat menteri, Bahder Djohan tetap aktif dalam dunia pendidikan tinggi dan pernah menjadi Rektor Universitas Indonesia. Dalam posisinya itu, ia terus memperjuangkan universitas sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan sekaligus pusat pembentukan karakter bangsa. Baginya, perguruan tinggi tidak boleh hanya menjadi tempat mencetak sarjana untuk memenuhi kebutuhan birokrasi negara, melainkan ruang tumbuhnya pemikiran kritis dan tanggung jawab moral.
Integritas Bahder Djohan juga terlihat dari sikap politiknya. Pada tahun 1958, ia memilih mengundurkan diri dari jabatan Rektor Universitas Indonesia sebagai bentuk protes terhadap tindakan militer pemerintah pusat dalam konflik PRRI di Sumatra Barat. Keputusan itu menunjukkan bahwa ia adalah intelektual yang memegang prinsip dan berani mengambil sikap berdasarkan keyakinan moralnya.
Warisan pemikiran Bahder Djohan tetap relevan hingga sekarang. Di tengah dunia pendidikan modern yang sering terjebak pada angka, ujian, dan persaingan akademik, gagasannya mengingatkan bahwa inti pendidikan sesungguhnya adalah membentuk manusia. Pendidikan bukan hanya tentang kecerdasan intelektual, tetapi juga tentang kemanusiaan, kebudayaan, dan tanggung jawab sosial.
Sebagai Menteri Pendidikan ketujuh Indonesia, Bahder Djohan telah meletakkan dasar penting bagi arah pendidikan nasional pada masa awal kemerdekaan. Ia memperjuangkan pendidikan yang merata, berkarakter nasional, dan berpihak pada rakyat. Meskipun namanya tidak selalu menempati ruang besar dalam buku sejarah populer, pemikiran dan dedikasinya tetap menjadi bagian penting dalam perjalanan pendidikan Indonesia.

Leave a Reply