
Ketika banyak orang membayangkan sekolah hari ini, yang terlintas biasanya ruang kelas modern, papan digital, dan akses internet cepat. Gambaran itu tidak salah. Tapi juga tidak sepenuhnya benar.
Karena di Papua, ada cerita lain.
Di beberapa wilayah, siswa SMP masih belajar dalam kondisi yang jauh dari kata ideal. Ruang kelas sederhana, fasilitas terbatas, bahkan buku dan tenaga pengajar yang tidak selalu tersedia. Ini bukan pengecualian ini kenyataan yang dihadapi setiap hari.
Bagi mereka, sekolah bukan soal kenyamanan. Tapi soal kesempatan.
Ada yang harus menempuh jarak jauh hanya untuk sampai ke kelas. Ada yang belajar dengan alat seadanya. Bahkan ada yang tetap datang ke sekolah meski tahu fasilitasnya tidak akan banyak membantu.
Namun mereka tetap belajar.
Di tengah segala keterbatasan itu, semangat untuk sekolah tidak hilang. Justru di situlah terlihat bahwa pendidikan bukan hanya soal gedung megah atau teknologi canggih. Tapi soal keinginan untuk terus maju, meski kondisi tidak selalu mendukung.
Kontras ini menjadi pengingat bahwa wajah pendidikan di Indonesia tidak tunggal. Di satu sisi, ada kemajuan yang patut diapresiasi. Di sisi lain, masih ada realitas yang belum banyak berubah.
Momen seperti Hari Pendidikan Nasional sering dirayakan dengan penuh optimisme. Tapi mungkin, di saat yang sama, ini juga jadi waktu yang tepat untuk melihat lebih jujur bahwa tidak semua siswa memulai dari titik yang sama.
Dan ketika kita bicara tentang masa depan pendidikan, pertanyaannya bukan hanya tentang inovasi.
Tapi juga tentang pemerataan.
Karena selama masih ada siswa yang harus berjuang hanya untuk mendapatkan akses dasar,
maka pendidikan kita belum benar-benar selesai.

Leave a Reply