Sekolah Keren vs Sekolah Bertahan: Pendidikan Kita Lagi Baik-Baik Saja?

|

7 Views

Di satu sisi, ada sekolah dengan layar digital, ruang kelas nyaman, dan akses teknologi yang makin canggih. Di sisi lain, masih ada anak-anak yang belajar di ruang sederhana, bahkan bergantung pada relawan agar tetap bisa sekolah.

Kontras ini terasa nyata ketika melihat potret pendidikan di Mataram. Bukan sekadar beda fasilitas, tapi beda pengalaman hidup. Yang satu bicara soal inovasi, yang lain masih berjuang soal akses dasar.

Yang menarik, di tengah keterbatasan itu, muncul inisiatif seperti “Sekolah Pesisir Juang” bukan sekolah elit, tapi ruang belajar yang lahir dari kepedulian. Tempat di mana pendidikan tetap berjalan, meski tanpa kemewahan.

Buat sebagian orang, ini inspiratif. Tapi di sisi lain, ini juga memunculkan pertanyaan yang agak mengganggu: kenapa harus ada “perjuangan” untuk sesuatu yang seharusnya jadi hak semua orang?

Narasi tentang pendidikan sering kali fokus pada kemajuan digitalisasi, kurikulum baru, fasilitas modern. Tapi realitas di lapangan belum sepenuhnya sejalan. Masih ada jarak antara yang terlihat di pusat kota dan yang dirasakan di pinggiran.

Bahkan momen seperti Hari Pendidikan Nasional yang seharusnya jadi ajang refleksi, justru memperlihatkan kontras itu makin jelas. Di satu sisi dirayakan, di sisi lain masih ada yang tertinggal.

Di titik ini, pendidikan bukan lagi sekadar soal “sekolah bagus atau tidak”. Tapi soal siapa yang benar-benar punya akses, dan siapa yang masih harus berjuang untuk itu.

Buat Gen Z yang tumbuh di era serba cepat, isu ini mungkin terasa jauh. Tapi justru di situlah pentingnya: sadar bahwa tidak semua orang mulai dari garis yang sama.

Dan mungkin pertanyaan paling jujur yang bisa diajukan sekarang bukan lagi:
“Seberapa maju pendidikan kita?”

Tapi:
“Siapa saja yang belum ikut maju?”

Artikel Menarik Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *